Nawacita dan Kebangkitan Indonesia

Pesiden RI-1, Ir. Soekarno ,dengan semangat perjuangan Trisakti.
Pesiden RI-1, Ir. Soekarno ,dengan semangat perjuangan Trisakti.

Pada hari ini, 108 tahun silam ( 20 Mei 1908) para mahasiswa STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia), Batavia, mendirikan organisasi modern bernama Boedi Oetomo. Pendirian Boedi Oetomo digagas oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo tentang pengumpulan dana pendidikan, yang kemudian disambut antusias mendirikan organisasi tersebut. Mahasiswa STOVIA, Soetomo terpilih menjadi Ketua Boedi Oetomo.

Pendirian Boedi Oetomo merupakan tonggak kebangkitan bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Jika perlawanan sebelumnya hanya berlangsung sporadis, terlokalisir, latar belakang personal dan mudah dipatahkan, Organisasi yang didirikan oleh para mahasiswa yang berasal dari seantero negeri tersebut lebih memiliki kesadaran nasionalisme untuk terbebas dari belenggu penjajahan. Sebagai bangsa yang besar kita harus akui dan berterima kasih, bahwa cikal-bakal kemerdekaan yang kita nikmati, merupakan hasil jerih – payah pejuang-pejuang, termasuk para pendiri Boedi Oetomo.

Jika kita tarik benang merah, suasana kebatinan Kebangkitan Nasional (1908) dengan kondisi Indonesia kekinian, di bawah Pemerintahan Jokowi – JK, memiliki nilai strategis. Bangsa Indonesia memberikan amanat untuk bangkit dari keterpurukan, kemiskinan, ketidakpastian hukum dan kesewenang-wenangan, dst. Jargon nawacita sebagai visi-misi Jokowi-Jk dalam Pilpres 2014 memiliki magnitude rakyat Indonesia, hingga memberikan mandat kepada pasangan tersebut.

Tantangan utama bagi Jokowi-JK, adalah implementasi dari para pembantunya (Menteri dan pejabat setingkat Menteri, Komisaris BUMN) untuk mewujudkannya. Karena bukan rahasia lagi, jabatan-jabatan tersebut syarat muatan “bargaining politics” dari partai-partai pendukung pemerintahan. Sehingga para pembantu Presiden, tak lebih hanya sebagai ‘lahan’ mengumpulkan modal parpol dalam Pemilu.

Bahkan untuk tingkat Pemerintah Daerah dan jajarannya, penulis menemui sejumlah Kepala Dinas dan Pejabat lain, yang ternyata tidak tahu arti nawacita, apalagi isinya. Perlu diketahui nawacita berasal dari bahasa Sanskerta: nawa (sembilan) dan cita (kehendak, keinginan. Nawacita merupakan penjabaran semangat perjuangan Bung Karno tentang Trisakti. Yakni: berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Berikut visi-misi Jokowi – JK tentang nawacita yang berasal dari www. kpu.go.id :

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.

    3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

    4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

    5.Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorongland reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.

    6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

    7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

    8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

    9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.

Program nawacita saat ini masih belum begitu banyak dirasakan oleh segenap bangsa ini. Namun paling tidak Jokowi-JK sudah berani memulainya, dan harus didukung seluruh elemen bangsa, dengan melepas simbol-simbol partai, kelompok atau golongan. Jika tidak, maka Indonesia terancam menjadi bangsa gagal, karena negeri dengan kekayaan melimpah ternyata bukan menjadi jaminan mensejahterakan rakyat, ironi.

(Oleh: A. Anthoni, Journalist)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s