Import Ikan, Ironi Negeri Bahari

Import ikan seperti ini akan menjadi tren baru industri perikanan Bitung di Era MEA.
Import ikan seperti ini akan menjadi tren baru industri perikanan Bitung di Era MEA.
Bitungnews – Fenomena import ikan di sentra industri pengalengan ikan terbesar di Indonesia, yaitu Kota Bitung, Sulawesi Utara, kayaknya akan menjadi tren dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (Economic ASEAN Community). Dari 14 Industri Pengalengan Ikan yang tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, 7 Perusahaan Pengalengan Ikan berada di Kota Bitung.

Selama lebih dari setahun terakhir 7 industri pengalengan ikan, yakni:
1. PT. Delta Pasifik Indo Tuna
2. PT. Samudera Mandiri Sentosa
3. PT. Sinar Pure Foods International
4. PT. International Alliance Food Indonesia
5. PT. RD Pacific International
6. PT. Carvina Trijaya Makmur
7. PT. Deho Canning Co
Tertatih-tatih menjalankan roda industri, selalu kekurangan stok bahan baku, sebagai imbas dari Peraturan Menteri KKP Susi Pujiastuti, tentang larangan transhipment (alih muat). Karena ‘curiga’ transhipment inilah yang menyebabkan negara kecolongan Ratusan Triliun dari Sumber daya perikanan.

Padahal hampir semua alat tangkap perikanan, harus melakukan transhipment dari kapal penangkap ke kapal penampung, hingga menyebabkan sebagian besar industri pengalengan ikan kurang pasokan bahan baku. Mereka kelabakan, memenuhi permintaan buyers yang telah terlanjur disepakati. Bahkan harus membayar penalty dari importir, karena tak mampu memasok sesuai kontrak yang disepakati.

Alih-alih mau untung, mereka justru buntung. Bahkan 4 perusahaan telah stop berproduksi, hingga menyebabkan 80% karyawan dirumahkan. 3 perusahaan yang masih beroperasipun hanya bermodal nekad, karena harus mendatangkan ikan dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan import dari luar negeri.

Namun memasuki 2016, para pelaku industri pengalengan ikan sedikit menyunggingkan senyum, saat bitungnews.com melontarkan pertanyaan, peluang MEA bagi industri perikanan. MEA bagi para pelaku industri perikanan di Kota Bitung, ibarat angin sejuk dari “surga”. Karena pasokan bahan baku ikan sudah tidak mungkin lagi dicukupi oleh nelayan tradisional, yang diandalkan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Apalagi pada tahun 2016, KKP memungut Pajak Hasil Perikanan beratus-ratus kali lipat. Sejumlah pengusaha kapal ikan yang ditemui bitungnews.com, ‘lempar handuk’ alias menyerah tak mampu lagi melanjutkan usahanya. Bahkan salah satu pemasok terbesar industri perikanan, akan menjual aset berupa lahan dan kapal untuk beralih profesi di bidang property.

Tidak bisa ditolak, pada era MEA Bitung merupakan ‘pasar empuk’ bagi serbuan ikan-ikan dari Philipina dan Thailand, yang selalu diposisikan oleh KKP sebagai pesaing, bahkan yang selalu dituding mengeruk sumber daya perikanan Indonesia. Kenapa harus jadi pasar empuk ? Pasalnya dalam era MEA telah disepakati bahwa tarif pajak bersama ASEAN maksimal 5 %.

Integrasi MEA di 2016 ini, Philipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia dll, tidak ada lagi batas-batas negara. Seperti antar provinsi dalam sebuah negara besar bernama ASEAN. Sebaiknya KKP di bawah Komando Susi Pujiastuti, mengkaji ulang kebijakan-kebijakan yang akan mengakibatkan menguras simpanan devisa negara.

Jika tidak, Presiden Jokowi yang harus mengeluarkan Beleid ke-11 Paket Kebijakan Ekonomi, untuk menghidupkan pengusaha kapal ikan dengan memberi insentif pengurangan pajak hasil perikanan. Dan yang lebih penting, pembayaran pungutan pajak hasil perikanan setiap bulan setelah dihitung ikan yang ditangkap. Bukan seperti sekarang dan puluhan tahun yang lalu, pembayaran PHP selama setahun, sebelum kapal beroperasi.

Apabila tidak dilakukan, apa boleh buat industri pengalengan ikan dan para pekerjanya perlu hidup, sehingga ‘terpaksa’ harus import ikan Cakalang. Bagi bitungnews.com ini yang disebut: Ironi Negeri Bahari. Menurut anda ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s